Argon Talks With Z, Membangun Keberanian untuk Berbagi, Menginspirasi Lintas Generasi
- 2 jam yang lalu
- 3 menit membaca

Setiap generasi membawa pengalaman, cara pandang, dan pendekatan yang berbeda terhadap pekerjaan, yang menjadi kekayaan tersendiri dalam lingkungan kerja yang semakin beragam. Karena itu, inspirasi dan pembelajaran tidak selalu datang dari mereka yang memiliki posisi atau pengalaman paling senior, tetapi juga dapat hadir dari setiap individu, termasuk generasi muda, melalui perspektif, pengalaman, dan ide yang mereka miliki.Ā
Berangkat dari semangat tersebut, PT Medela Potentia Tbk menghadirkan Argon Talks With Z di HO Titan Center pada Rabu, 26 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi karyawan Gen Z untuk berani menyuarakan perspektif, berbagi pengalaman mengenai dunia kerja, pengembangan diri, dan perjalanan karier, sekaligus membangun kepercayaan diri untuk tampil dan berbagi di hadapan rekan kerja lintas generasi.Ā
Hadir sebagai pembicara, Business Executive PT Djembatan Dua, Ibu Pauline Benita Suyanto; Planning System Supervisor PT Anugrah Argon Medica, Bapak Viter Pranata; dan System & Process Improvement Officer PT Anugrah Argon Medica, Ibu Jedith Maharani Krisnayudha. Ketiganya membawa perspektif berbeda yang bertemu pada satu tema: bagaimana seseorang menemukan makna dalam pekerjaan, terus berkembang, dan menavigasi perjalanan kariernya.
Bukan Hanya Pendapatan, Gen Z Mencari Pengalaman Kerja yang Bermakna
Bagi Pauline, pengalaman bekerja tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan, kompensasi, jenjang karier, maupun kesempatan belajar. Ada pula hal-hal sederhana dalam keseharian yang membentuk bagaimana seseorang merasa terhubung dengan tempat kerjanya.
Ia menyoroti pentingnya workspace experience, mulai dari kebersamaan dengan rekan kerja hingga terciptanya lingkungan yang nyaman untuk berkomunikasi, bertanya, dan bertumbuh.
āSelain salary, jenjang karier, benefit, dan learning opportunity, menurut saya ada faktor workspace experience. Ada keinginan untuk punya quality time bersama teman-teman. Yang penting bukan hanya kegiatannya, tetapi momen kebersamaannya,ā ujar Ibu Pauline.

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa pengalaman karyawan juga menjadi bagian dari bagaimana seseorang membangun keterikatan dengan organisasi. Lebih dari sekadar menjalankan pekerjaan, rasa menjadi bagian dari lingkungan kerja dapat tumbuh melalui interaksi dan momen-momen sehari-hari.
Growth Mindset: Berani Mencoba untuk Berkembang
Sementara itu, Bapak Viter membawa pembahasan mengenai growth mindsetĀ melalui sesi Unleashing Growth Mindset. Ia mengajak peserta melihat kemampuan bukan sebagai batas, melainkan sesuatu yang dapat terus dikembangkan melalui pengalaman dan kemauan untuk mencoba.

Alih-alih menghindari tantangan karena belum merasa cukup mampu, growth mindsetĀ mendorong seseorang untuk mengambil kesempatan, belajar dari kesalahan, dan terus memperbaiki diri. āKalau saya tidak mengambil kesempatan untuk belajar, bagaimana saya mau berkembang? Saya harus challenge diri saya,ā kata Bapak Viter.
Untuk menjaga arah pengembangan diri, Viter juga membagikan sejumlah cara yang dapat dilakukan, mulai dari memvisualisasikan tujuan, menemukan mentor, hingga membangun kebiasaan kecil secara konsisten.
Belajar dari Trekking: Tidak Semua Perjalanan Harus Lurus
Perspektif berbeda datang dari Jedith yang menggunakan pengalaman trekking sebagai refleksi mengenai perjalanan pengembangan diri dan karier.
Melalui prinsip Risk, Roam, dan Repeat, Jedith mengajak peserta melihat perjalanan sebagai proses yang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya seseorang perlu berani mengambil langkah sebelum merasa sepenuhnya siap. āTapi not every detour is a mistake. Yang penting adalah kemampuan untuk mengambil pembelajaran dari perjalanan tersebut,ā kata Jedith.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa rasa tidak siap, kesalahan, maupun perubahan arah tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang berada di jalan yang salah. Justru, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses belajar dan bertumbuh.
Memahami Gen Z, Menyiapkan Masa Depan Organisasi
Ketiga perspektif tersebut memperlihatkan bahwa meskipun cara setiap generasi memandang pekerjaan dapat berbeda, ada kebutuhan yang dapat mempertemukan satu sama lain, yaitu merasa terhubung, memiliki ruang untuk berkembang, dan mendapat kesempatan untuk terus belajar.
HR Director PT Medela Potentia Tbk, Ibu Nancy Kartika, mengatakan bahwa keberagaman perspektif antargenerasi dapat menjadi kekuatan bagi organisasi ketika tersedia ruang untuk saling memahami dan belajar.
āGen Z membawa perspektif, cara berpikir, dan cara bekerja yang turut memperkaya organisasi. Karena itu, penting bagi perusahaan untuk menghadirkan ruang yang memungkinkan mereka untuk menyampaikan gagasan, belajar, berdiskusi, dan terus berkembang. Pada saat yang sama, ruang ini juga menjadi kesempatan bagi generasi lain untuk saling memahami dan belajar satu sama lain,ā ujar Ibu Nancy.

Senada dengan hal tersebut, Talent Management PT Medela Potentia Tbk, Ibu Valencia Sherry, menyampaikan bahwa pengembangan talenta tidak hanya berlangsung melalui program formal, tetapi juga melalui dialog dan berbagi pengalaman.
Melalui ruang dialog seperti Argon Talks With Z, perbedaan antargenerasi tidak berhenti pada perbedaan cara pandang. Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat menjadi titik awal untuk saling memahami, memperkaya pengalaman, dan bersama-sama membangun lingkungan kerja yang mendorong setiap talenta untuk terus bertumbuh.
