Awali 2026 dengan Solid, Laba MDLA Naik 7 Persen
- 6 Mei
- 4 menit membaca

Mengawali 2026, PT Medela Potentia Tbk (MDLA) menunjukkan kinerja yang solid sepanjang kuartal pertama. Pendapatan perseroan tumbuh positif 3,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga mendorong laba periode berjalan naik 7,4 persen menjadi Rp119,32 miliar. Pertumbuhan pendapatan dan peningkatan laba ini didorong oleh kinerja penjualan produk farmasi dan efisiensi operasional di seluruh jaringan distribusi.
Meski tahun ini kondisi ekonomi dan geliat dunia usaha dihadang sejumlah tantangan, MDLA berhasil mengantongi penjualan neto Rp4,03 triliun hingga 31 Maret 2026, meningkat dibandingkan Rp3,9 triliun yang dicatatkan pada kuartal I 2025.
Penjualan produk farmasi menjadi kontributor utama dengan Rp3,26 triliun, lebih tinggi dari Rp2,7 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu penjualan alat kesehatan mengkontribusikan Rp394,5 miliar, dan produk kesehatan Rp380,2 miliar.
Laba bruto perseroan naik menjadi Rp382,53 miliar, dari sebelumnya Rp372,35 miliar pada Q1 2025. Laba usaha juga tercatat meningkat menjadi Rp151,23 miliar, naik dari Rp146,14 miliar. Laba periode berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk dilaporkan sebesar Rp116,66 miliar, naik dari Rp110,28 miliar di tahun sebelumnya.
Ini setara dengan Rp8,33 per lembar saham. Ada sedikit penurunan dari Rp10,5 per lembar saham pada periode yang sama tahun sebelumnya karena adanya peningkatan modal ditempatkan sehingga saham terdilusi.
Di satu sisi, beban pokok penjualan naik dari Rp3,5 triliun menjadi Rp3,65 triliun sepanjang kuartal pertama. Kenaikan ini utamanya didorong membengkaknya beban bahan baku dan kemasan yang mencapai Rp5,8 miliar, dari sebelumnya hanya Rp3,3 miliar.
Beban pokok produksi juga melonjak dari Rp5,5 miliar menjadi Rp8,14 miliar. Kendati demikian, MDLA menegaskan kenaikan beban ini masih relatif terkendali sehingga mendukung naiknya laba operasi.
Tetap Waspada Risiko Geopolitik
Meski sinyal meredanya eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali muncul dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Medela Potentia menegaskan terus memantau perkembangan yang terjadi.
Kendati MDLA tidak memiliki operasi langsung yang signifikan di negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik di Iran, namun dampak ekonomi yang lebih luas akibat situasi geopolitik tersebut dapat memengaruhi operasi dan kinerja keuangan secara tidak langsung.
Dalam rilis laporan keuangan MDLA dan entitas anak periode Kuartal I 2026, perseroan menyebut ada sejumlah potensi dampak terhadap operasi, posisi keuangan, dan kinerja keuangan dari volatilitas harga energi dan komoditas global, gangguan pada rantai pasokan dan logistik global, ketidakpastian makroekonomi yang lebih luas yang memengaruhi permintaan pelanggan, serta volatilitas di pasar valuta asing dan pasar keuangan.
MDLA menegaskan komitmennya untuk terus mencermati dinamika global, termasuk potensi eskalasi konflik di Timur Tengah dan akan melakukan penilaian lebih lanjut terhadap potensi pengaruhnya pada periode pelaporan berikutnya.
Potensi Besar Pasar Kesehatan
Di tengah sejumlah tantangan baik dari dalam maupun luar negeri, emiten yang bergerak di distribusi dan pemasaran produk farmasi, alat kesehatan serta manufaktur ini optimistis pasar kesehatan Indonesia menjanjikan pertumbuhan jangka panjang. Menargetkan pertumbuhan di atas laju PDB, perseroan fokus untuk terus melakukan pembenahan agar bisa tumbuh berkelanjutan. Penguatan distribusi, efisiensi operasional, dan adopsi teknologi menjadi strategi menekan biaya serta meningkatkan layanan.
Dengan populasi penduduk terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk pasar kesehatan. Belanja kesehatan perkapita yang masih rendah, hanya sekitar US$158,90 pada 2021 berdasarkan data World Bank, menunjukkan tren peningkatan seiring pergeseran perilaku masyarakat yang semakin sadar kesehatan dan lebih sering mengakses layanan klinis.
Lebih dari empat dekade beroperasi, PT Medela Potentia Tbk dan entitas anak telah berkembang menjadi salah satu platform distribusi terintegrasi yang terkemuka di Indonesia, menyediakan akses ke berbagai produk kesehatan di seluruh negeri, termasuk lini alat kesehatan yang diproduksi sendiri.
Distribusi menjadi kunci, dengan perluasan jangkauan ke seluruh wilayah nusantara serta penetrasi pasar internasional yang sudah dimulai dengan Kamboja dan Timor Leste. MDLA menyebut biaya tetap distribusi adalah salah satu tantangan utama.
Oleh karena itu, pengembangan teknologi dan AI menjadi salah satu prioritas, antara lain dengan menggunakan expert systems dan machine learning untuk meningkatkan akurasi proyeksi permintaan, sehingga menyeimbangkan stok dan modal kerja.
Selain itu, sistem AI diterapkan untuk membantu mengoptimalkan level stok, mengurangi modal yang terikat akibat overstock dan mencegah stockout. Perusahaan juga mengembangkan sistem manajemen transportasi yang menghitung rute paling efisien dan menstandarisasi perencanaan pengiriman.
Penguatan kapabilitas distribusi sebagai bagian dari strategi peningkatan kapasitas dan efisiensi operasional juga terus dilakukan. Akhir tahun ini jangkauan distribusi di wilayah Sumatera akan semakin kuat seiring rampungnya pembangunan warehouse dan kantor cabang PT Anugrah Argon Medica (AAM), salah satu anak usaha MDLA, di Medan.
Sebelumnya, tahun lalu MDLA juga telah mengakuisisi National Distribution Center (NDC) 1 seluas 10.000 meter persegi dengan kapasitas 13.525 pallet di Kawasan Industri Jababeka II, Cikarang, Jawa Barat. Fasilitas NDC 1 ini telah menjadi bagian integral dari infrastruktur distribusi perseroan selama lebih dari 10 tahun, dan sebelumnya dimanfaatkan oleh Perseroan melalui skema sewa dari perusahaan afiliasi.
MDLA juga telah mengakuisisi lahan seluas 2,7 hektar di Kawasan Industri Jababeka I untuk pengembangan NDC 2 Anugrah Argon Medica. Ekspansi ini akan semakin memperkuat kapabilitas warehouse sekaligus meningkatkan kecepatan dan kualitas layanan bagi pelanggan.
“Penguatan jaringan distribusi, pengembangan infrastruktur gudang, dan ekspansi portofolio produk menjadi langkah kami untuk menjaga momentum pertumbuhan”, tegas Direktur Utama PT Anugrah Argon Medica, Juliwaty.
Tahun ini, sejumlah terobosan juga telah dilakukan untuk pengembangan dan perluasan layanan. Pada awal Februari, AAM bersama Alcon meluncurkan Systane® Complete Multi-Dose Preservative-Free, tetes mata inovatif sebagai solusi untuk berbagai keluhan mata kering.
Pada bulan yang sama, PT Medela Potentia Tbk (MDLA) melalui AAM juga menjalin kerja sama strategis untuk memperluas distribusi produk makanan hewan berkualitas bersama dengan Compawnion. Ini menjadi langkah untuk menjawab kebutuhan industri pet care Indonesia yang berdasarkan laporan Mordor Intelligence diproyeksikan mencapai US$1,83 miliar pada 2031.
