top of page

Leaders Sharing with Bapak Krestijanto Pandji, Kepemimpinan Adaptif di Tengah Ketidakpastian

  • Gambar penulis: Muhammad Akhiruddin Nasution
    Muhammad Akhiruddin Nasution
  • 15 Des 2025
  • 2 menit membaca

Di era ketika perubahan terjadi lebih cepat, seluruh pemimpin dituntut mampu bergerak adaptif dalam mengambil keputusan. Direktur Utama PT Medela Potentia Tbk, Bapak Krestijanto Pandji menegaskan bahwa pola kepemimpinan yang relevan hari ini bukan lagi yang bersifat top-down, melainkan model Agile Leadership yang menekankan fleksibilitas, empati dan adaptasi berkelanjutan.


Hal tersebut disampaikan Bapak Krestijanto Pandji dalam sesi Leader Sharing yang digelar oleh Human Resources PT Medela Potentia Tbk di Ruang Carrel, Titan Center, pada Rabu, 10 Desember 2025 untuk memperdalam perspektif kepemimpinan di tengah tantangan bisnis yang semakin kompleks.


Dalam paparannya, Bapak Krestijanto Pandji menjelaskan bahwa dunia saat ini berada dalam situasi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Ketidakpastian yang meningkat menuntut pemimpin untuk mengurangi pola kepemimpinan tradisional atau Command and Control Leadership yang terlalu mengandalkan instruksi dan kontrol penuh dari level atas.


“Perubahan begitu cepat dan terkadang tidak terduga. Setiap keputusan harus diambil dengan mempertimbangkan banyak variabel. Di dunia yang volatile ini, rigid hierarchy create information bottleneck,” kata Bapak Krestijanto.


Bapak Krestijanto memaparkan bahwa Agile Leadership adalah sebuah mindset fundamental tentang bagaimana pemimpin merespons perubahan. Mindset ini terdiri dari tiga pilar utama.


Pilar pertama adalah Radical Adaptability, yaitu kemampuan untuk tetap fleksibel dengan berpegang pada core values perusahaan. Ia mengibaratkan pemimpin agile seperti pohon bambu yang mampu bergerak mengikuti arah angin, tetapi tetap berdiri kokoh.


“Agile leader memeluk perubahan dan memandang disrupsi sebagai peluang untuk berinovasi,” jelasnya.



Pilar kedua adalah Decentralized Authority, yang menekankan pentingnya distribusi kewenangan ke tim yang paling dekat dengan sumber informasi. Menurutnya, kecepatan organisasi hanya dapat dicapai ketika keputusan dapat diambil tepat di titik yang memahami konteks lapangan.


Prinsip ini mencakup distribusi keputusan, pembangunan kepercayaan dan otonomi, serta pemangkasan lapisan birokrasi agar organisasi dapat bergerak lebih cepat.


“Ketika tim diberi kepercayaan, mereka merasa memiliki hasil. Di situlah organisasi menjadi lebih gesit,” ungkapnya.


Pilar ketiga adalah Empathy & Connection. Dalam situasi penuh tekanan dan ketidakpastian, ia menegaskan bahwa pemimpin harus memiliki empati dan koneksi dengan tim.


Menurutnya, empati adalah fondasi dari terciptanya psychological safety lingkungan yang kondusif untuk inovasi dan pembelajaran tanpa rasa takut. “Agile leaders must connect on a human level. Tanpa empati, tim tidak akan berani bereksperimen,” katanya.


Menjadi Pemimpin di era VUCA


Untuk membantu organisasi menavigasi dunia yang VUCA, Bapak Krestijanto memberikan tiga strategi yaitu, Vision, Clarity dan Agility. Vision menjadi pegangan di tengah volatilitas, Clarity dibutuhkan untuk menyederhanakan kompleksitas, dan Agility menjadi kunci menghadapi ambiguitas.


“Saya melihat di PT Medela Potentia Tbk dan entitas anak sudah terjadi perubahan dari Command & Control Leadership ke Agile Leadership. Tugas saya adalah untuk memastikan proses transformasi ini berjalan dengan smooth,” tambah Bapak Krestijanto Pandji.


Bapak Krestijanto menutup sesi dengan menekankan pentingnya growth mindset bagi seluruh pemimpin di PT Medela Potentia Tbk dan Entitas Anak. Ia menyampaikan bahwa kemampuan belajar cepat menjadi pembeda utama organisasi masa depan.


“Kita harus terus belajar, dan lebih penting lagi, berani melepas pola pikir lama yang sudah tidak relevan,” ujarnya.

 

 

 

 
 
bottom of page