PT AAM dan BBPOM Palembang Perkuat Peran Apoteker dalam Pengendalian Resistensi Antimikroba
- 24 Jun
- 2 menit membaca

Sebagai bagian dari komitmen dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kefarmasian dan penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab, PT Medela Potentia Tbk melalui entitas anak PT Anugrah Argon Medica (AAM) berkolaborasi dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Palembang menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Apoteker Penanggung Jawab Apotek bertema "Regulasi dan Pengawasan Peredaran Antimikroba: Memutus Rantai Resistensi di Sektor Manusia, Hewan, dan Lingkungan" pada 11 Juni 2026 di Palembang.
Kegiatan ini diikuti oleh 70 apoteker penanggung jawab apotek dari berbagai wilayah di Kota Palembang sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman dan kapasitas tenaga kefarmasian dalam mendukung penggunaan antibiotik yang rasional serta pencegahan resistensi antimikroba.
Dalam sambutannya, Kepala BBPOM di Palembang, Ibu Yani Ardiyanti, S.Si., Apt., M.Sc., menyampaikan apresiasi kepada PT Anugrah Argon Medica atas inisiatifnya dalam menghadirkan forum edukasi yang mempertemukan regulator, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan terkait.
Menurutnya, kolaborasi antara regulator dan pelaku industri kesehatan menjadi langkah penting dalam memperkuat pemahaman apoteker terhadap regulasi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian kepada masyarakat.

Kegiatan bimbingan teknis menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas pengendalian resistensi antimikroba dari berbagai perspektif, antara lain paparan mengenai regulasi dan pengendalian resistensi antimikroba di Indonesia oleh Kepala BBPOM Palembang.
Sementara itu, Ketua Tim Farmasi dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Palembang, apt. Tien Atika Setiawati, S.Si., menjelaskan peran Dinas Kesehatan dalam upaya pengendalian resistensi antimikroba dan Dra. Citra Willia Agus, Apt., M.Kes., Apoteker Ahli Utama Instalasi Farmasi RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang, membawakan materi mengenai peran apoteker dalam menahan laju resistensi antimikroba.
Isu resistensi antimikroba menjadi perhatian penting mengingat tingginya penggunaan antibiotik tanpa pengawasan yang memadai. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), sebanyak 48,5 persen masyarakat di Provinsi Sumatera Selatan memperoleh antibiotik tanpa resep dokter, sementara 55,5 persen antibiotik diperoleh melalui apotek dan toko obat berizin. Data tersebut menunjukkan pentingnya peran apoteker dalam memastikan penggunaan antibiotik yang tepat sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko resistensi antimikroba.

Kepala Cabang AAM Palembang Bapak Yulius Yudianto, menegaskan bahwa pengendalian resistensi antimikroba memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk regulator, tenaga kesehatan, industri kesehatan, dan masyarakat.
"Kolaborasi menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih baik. Kami mengapresiasi sinergi yang terjalin dengan BBPOM Palembang serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Kami berharap edukasi yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi para apoteker dalam meningkatkan kompetensi dan kualitas pelayanan kefarmasian, sehingga pada akhirnya turut mendukung kesehatan masyarakat yang lebih baik," ujar Bapak Yulius.
Melalui kolaborasi yang berkelanjutan dengan BPOM di berbagai daerah, AAM terus mendukung peningkatan kapasitas tenaga kefarmasian melalui program edukasi yang relevan dan kolaboratif guna memperkuat kualitas layanan kefarmasian serta mendukung penggunaan obat yang aman dan rasional di Indonesia.
